Terima Kasih Untuk Kerja Kerasmu



Hadir tanpa aba-aba, begitu saja Tuhan menghadirkannya.
Bingung, aku kebingungan, datang begitu saja tanpa aku mengerti apa yang sedang terjadi. Pada akhirnya aku bercengkrama dengannya sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama.

Aku hanya seorang anak kecil berumur 6 tahun yang mencoba memahami apa yang terjadi.
Hari-hariku dipenuhi dengan kesibukan yang ada di dalam otak, mempertanyakan banyak hal.
"apa ini?"
"mengapa aku melakukannya?"
"bolehkah aku melakukannya?"
terus saja berputar di otakku

Sore itu aku pergi ke mini market dekat rumah, seseorang memintaku untuk membelikan sesuatu. Aku bergegas pergi, iya aku selalu senang pergi ke mini market karena aku bisa melihat-lihat, dan membayangkan apa yang akan aku beli minggu depan jika uangku cukup untuk membeli sesuatu. Waktu itu aku harus menyisihkan uang sakuku untuk bisa membeli sekotak cotton buds, kertas binder atau hal lainnya.

Bahagia menemaniku, tapi tak lama kesedihan datang untuk bergantian. Dan terjadi lagi, kali ini aku memilih bersembunyi di dalam lemari, terkadang aku bersembunyi di bawah tempat tidur, pada akhirnya mereka menemukanku juga. Aku hanya bisa diam disaat aku mendengarkan kegaduhan dari mereka. Otakku kembali sibuk dengan berbagai kalimat yang memenuhi.
"datang lagi?"
"mengapa mereka membuat gaduh?"
"aku tidak bisa berhenti!"

Di titik itu seorang anak perempuan berumur 10 tahun memahami apa yang terjadi selama ini. Pikirku ketika aku lebih pandai, akan lebih mudah mengendalikan semuanya.

3 tahun berlalu, waktu menelanku dengan mudahnya, seolah magnet yang saling tarik menarik. Pada tiap sisi ruang dan waktu hanya dipenuhi kata-kata yang tidak pernah terucap.
"aku memahaminya!"
"aku tau penyebabnya!"
"aku harus berhenti!"
"kenapa sulit untukku mengendalikannya!"
"kenapa tidak ada yang menanyaiku"
"kenapa mereka tidak bertanya tentang hatiku?"
"kenapa mereka tidak mencoba mencari tau penyebabnya?"
"kenapa mereka menghakimi!"
"kenapa mereka melihatku seolah tidak berarti"
"kenapa tidak ada yang menggapaiku ketika aku terjatuh"

dengarkan lagu  Family of the Year - Hero untuk melanjutkan membaca, lebih nyaman mendengarkan dengan handsfree.




Jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi. Aku ingin menghadapinya, bertarung menghadapinya. Walaupun sesungguhnya aku ingin berkata kepada mereka "aku hanyalah anak-anak, selayaknya anak-anak lain di dunia ini".

Ketika mereka saling berlomba untuk menjadi seseorang yang tidak peduli, saat itu Tuhan mengajarkanku tentang kepedulian. 

Aku berbaring dalam kegundahan, memilih untuk memejamkan mata dan bedoa kepada Tuhan.
"Tuhan aku tidak lelah, aku akan mencobanya lagi, aku memilikimu"

Aku akan mengakhirinya, memulai untuk hal baru, dan biarkan aku pergi.
Tarik nafas dalam-dalam, aku akan berlari untuk kembali berangan dan mejadikan khayalanku kenyatan.  Jangan takut dengan kesalahan, karena tidak akan ada yang menyalahkanmu, tidak apa, semua orang pernah melakukannya.

Aku tidak bisa memilih di tempat  mana aku ingin tinggal, karena Tuhan mengatakan ini baik untukku, dan ini adalah salah satu bagianku yang harus aku habiskan. Selanjutnya aku akan menikmati bagian hidupku lainnya, yang menungguku.


Komentar

Postingan Populer