Tuhan Mengarahkanku?


Sore hari aku keluar rumah untuk bersepeda, dalam persimpangan jalan aku memilih berbelok kanan, ya tanpa pikir panjang aku mengambil jalan itu. Lalu aku berhenti di jembatan yang tidak jauh dari rumah, aku melihat lampu jalan, seketika pikiranku berkelana ke masa lalu. 

Aku teringat tulisanku dulu,
"Aku ingin menjadi lampu jalan itu, tetap menyala walaupun angin, hujan, ataupun petir tengah menyapanya. Aku ingin menjadi lampu jalan itu, karena dia akan menyala jika dibutuhkan dan akan padam jika tidak dibutuhkan"

Pagi itu aku mengucapkannya begitu saja, lalu aku tulis di salah satu sosial mediaku, moment itu sekitar 4 tahun yang lalu.

Saat ini, di jembatan yang sama aku tersenyum kecut, pikirku ternyata aku tidak berubah, aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri dalam waktu yang lama, bodohnya aku ini. Aku menyadari jika aku tengah menjadi boneka ambisiku sendiri.

MAU SAMPAI KAPAN KAMU TETAP MENYALA?
MAU SAMPAI KAPAN KAMU TETAP BERBAIK HATI, nyatanya sikapmu itu salah?
MAU SAMPAI KAPAN KAMU BERUSAHA?
dan mau sampai kapan kamu tidak menanyakan keadaan dirimu sendiri?

Jantungku berdetak sangat cepat, hingga rasanya aku sulit bernafas. "tenang ni, tenang ni, ini penyebab kegelisahanmu saja, kamu baik-baik saja saat ini" kataku, lalu aku mencoba menghitung beats per minute dan benar jika jantungku baik-baik saja.

Begitu pandainya, pikiran kita bisa membuat lumpuh beberapa anggota tubuhmu, ya kukira seolah dibuatnya lumpuh, karena nyatanya baik-baik saja. Pikiran itu baik, jika kamu dapat mengelolahnya, ya tentu akan menjadi tidak baik, jika kamu tidak dapat mengelolahnya. Cobalah.

Ingatkah kamu, jika diawal tulisanku aku berkata "aku memilih berbelok kanan, ya tanpa pikir panjang". Rupanya pencipta semesta ini ingin menyadarkanku dengan masa lalu. Pemikiranku dulu yang menyadarkanku akan masalah yang dulu aku hadapi dan dapat aku lewati. Saat ini aku diminta untuk menggunakan pemikiran itu lagi untuk mengatasi kegelisahanku.




Aku ingin menjadi lampu jalan itu, tetap menyala walaupun angin, hujan, ataupun petir tengah menyapanya. 
Ketika emosi negatif seperti sedih, marah, kecewa, bahkan benci datang, maka biarkanlah mereka hadir. Sama seperti ketika kamu menerima hadirnya emosi positif seperti ketenangan, bahagia, cinta. Semua rasa itu sudah ada sejak dulu, memang diciptakan Tuhan untuk kita, agar kita pandai bersyukur atas satu dengan yang lainnya. Sedih dan bahagia itu satu paket, dan kita tidak bisa hanya memilih salah satunya saja. Toh, semua rasa itu hanya sementara, akan ada waktunya pergi dan terganti. Jadi, tetaplah disana, nikmati, dan tidak perlu khawatir.

Aku ingin menjadi lampu jalan itu, karena dia akan menyala jika dibutuhkan dan akan padam jika tidak dibutuhkan.
Manusia seringnya haus akan hal-hal yang membuatnya bahagia, seperti membahagiakan orang lain, memikirkan kebutuhan orang lain, atau memikirkan kebaikan untuk orang lain. Padahal ada beberapa hal yang itu bukan bagianmu dan bukan tanggung jawabmu. Jadi berhentilah baik, jika bukan pada tempatnya. Jadilah baik yang pandai, bukan baik yang bodoh! 


Terima kasih Tuhan, karena engkau mengingatkanku.








Komentar

Postingan Populer